my name is tami...bibeh...titam

Assalammualaikum...wr...wb...
WELCOME :)


Rabu, 20 Oktober 2010

20.10.2010 Goodbye, Bewa!

11.09.2010
Masih bayi, lucu dan mungil.
11.09.2010
Dia dibawa ke rumah keluargaku.
11.09.2010
Dimasukkan ke dalam kotak sepatu yang dibolongin.
11.09.2010
Waktu di mobil bunyi krasak-krusuk terdengar dari kotak sepatu yang berisi dirinya.
11.09.2010
Sepanjang perjalanan pulang dengan diiringi bunyi krasak-krusuk aku dan keluarga berdiskusi mencarikannya sebuah nama yang lucu, unik dan sesuai untuknya.
Adikku bilang, "Waluyo aja! lucu..." Aku, "Boleh... Lucu juga :)"
11.09.2010
Sampai di rumah, ketika buka bagasi mobil aku langsung kaget dan berteriak, "Dad, liat si Waluyo keluar dari kotak! Dia berdiri di atas tas! Kayak mana ini? Aku nggak berani megangnya! Cepat, Dad, tangkap! Nanti dia terbang!"
Anehnya, melihat aku yang berteriak histeris dia masih tetap anteng bertengger di atas tas. Kepalanya agak miring dan mata mungilnya itu menatapku seakan-akan berkata, "tenang, aku tidak akan pergi!"
11.09.2010
Dad datang dan menangkap tubuh mungilnya. "Kita belum punya rumah untuk Waluyo. Numpang dulu lah di tempat tetangga. Besok baru kita carikan rumah buat dia." Kata Dad.

12.09.2010
Mum dan Dad pergi mencarikan sebuah rumah buat Waluyo.
12.09.2010
Sambil membereskan rumah aku dan adikku kembali berunding.
Aku : Kalau Waluyo aja kayaknya kedewasaan kali ya, Bang!
Adikku : Jadi...
Aku : (sambil berpikir) Dia kan masih bayi. Kayak mana kalau namanya "Bewa aja"! Singkatan dari Baby Waluyo. Dia kan masih bayi. Cocok kali tuh dikasih nama Bewa. Ya kan?
Adikku : (sambil tertawa) Baby Waluyo? Bewa? Entah apa-apa aja Kakak ini!
Aku : (mendelik) heh, lucu itu ya namanya. Pokoknya mulai sekarang namanya adalah BEWA. titik!
12.09.2010
Mum dan Dan pulang sambil membawa sebuah rumah kecil yang sederhana buat Bewa. Dad segera menjemput Bewa dan memasukkan Bewa ke rumah barunya. Begitu dimasukkan, dengan sayap kecilnya itu dia terbang kesana dan kemari mengelilingi rumah barunya. Cicitannya langsung ribut memenuhi rumahku seakan-akan ingin mengungkapkan, "terima kasih! Aku suka rumah ini!"
12.09.2010
Aku : Dad, aku udah carikan nama panggilan buat dia!
Dad : Apa?
Aku : Bewa (sambil tersenyum memandang Bewa terbang di rumahnya)
Dad : (mengernyit) kok Bewa?
Aku : Iya, Bewa itu singkatan dari Baby Waluyo. Soalnya dia kan masih Baby (bayi).
Sejak itu kami, aku dan keluargaku, memanggilnya Bewa.
12.09.2010
Bewa resmi menjadi anggota baru dalam keluarga kecilku :)
12.09.2010
Setiap kali dia ribut bercicit itu sebuah pertanda bahwa dia sedang lapar. Maka siapapun diantara kami yang merasa berisik dengan cicitannya akan segera menyuapkan makanan kemulutnya. Dan dengan cepat dia langsung mematuk-matuk sendok kayu kecil yang disuapkan kemulutnya.
12.09.2010
Bewa masih bayi jadi dia manja. Makanannya harus lembek persis seperti bayi pada umumnya. Kalau makanannya keras dia hanya diam menolak suapan disodorkan kepadanya.
12.09.2010
Sampai hari-hari berikutnya, rumah ini sudah terbiasa dengan kehadiran Bewa. Setiap pagi cicitannya yang ribut itu membangunkan kami seakan-akan dia adalah alarm hidup yang tidak perlu disetel lagi.
12.09.2010
Setiap pagi Mum yang merawatnya (karena kami harus pergi kuliah dan sekolah) mengeluarkannya, memandikannya dan membersihkan kandangnya.
12.09.2010
Setiap kali aku pulang kuliah dan adikku pulang sekolah maka cicitannya yang ribut itu akan menyambut kepulangan kami.

Memasuki bulan Oktober, aku merasa ada sesuatu yang aneh pada Bewa. Dia tidak lagi ribut seperti biasanya. Dia diam saja. Tidak lagi bercicit-cicit riang ketika minta makan. Memang pada saat itu dia sudah bisa makan sendiri. Tapi absennya suara Bewa membuat rumah menjadi sepi.

15.10.2010
Sepupuku datang ke rumah dan melihat Bewa, "tumben kok dia diam aja? biasanya ribut kali?". Aku, "entah, udah belakangan ini dia kayak gitu!". Sepupuku kembali berkata, "Ih, paruhnya bengkok lah. Coba tengok bentuk paruhnya aneh, mereng!". Aku, "ah, masa?" Lalu kuperhatikan paruhnya, ternyata benar. Paruh Bewa agak aneh. Ada apa sebenarnya dengan Bewa?

16.10.2010
Aku bangun tidur dan melihat Bewa. Kaget melihat kandangnya dirubungi semut merah yang besar. Lalu aku melihat ada satu semut yang berjalan menuju mata Bewa. Aku berteriak, "Awas. Bewa!". Bewa langsung menyingkirkan semut itu dari matanya menggunakan kakinya.
Adikku langsung bilang, "Kak, Bewa nggak dikeluari?" Aku, "Nggak usah lah!" Tapi dalam hati merasa aneh, kenapa kok bisa bersemut rumah Bewa ya?
16.10.2010
Beberapa jam kemudian aku kembali melihat kandang Bewa dan mataku langsung melotot begitu melihat tubuh Bewa sudah penuh dikerubungi semut. Bewa kelihatan gelisah sekali. Tubuh kecilnya itu meronta-ronta berusaha menyingkirkan semut-semut kecil yang jahat. Dengan panik aku langsung mengeluarkan rumahnya keluar. Aku ambil semprotan mandinya dan menyemprot-nyemprot tubuhnya untuk mengusir semut-semut itu. Aku pukul-pukul rumahnya supaya semut-semut itu berjatuhan. Setelah semua semut itu pergi, aku memandang Bewa dengan sedih. Napasnya tersengal-sengal, matanya tertutup, bulunya kelihatan kacau. Maafkan kakak, Bewa :(

17.10.2010
Dad mengeluarkan kandang Bewa keluar dan memeriksa tubuhnya.
Dad : (memasukkan tangannya ke dalam rumah Bewa dan mengambil tubuh kecilnya itu) Kenapa sih Bewa?
Bewa : (hanya mencicit lemah di dalam genggaman tangan Dad) *ini untuk pertama kalinya aku mendengar Bewa bersuara lagi*
Dad : (asik memeriksa tubuh Bewa)
Bewa : (tatapan matanya lemah, suara cicitannya juga melemah)

18.10.2010
Menurut Mum Bewa udah mulai bersuara lagi walaupun hanya sekadar cicitan lemah. Tapi dia nggak mau makan. Paruhnya juga terbuka terus. Setiap kali disuapin, Bewa nggak ada reaksi. Paruhnya tetap terbuka. Yang ada air liurnya yang menetes.

19.10.2010
Kondisi Bewa makin parah. Dia udah nggak bisa terbang lagi. Dia jarang bertengger di kayu paling atas di rumahnya. Dia cuman nonggok di bawah.
19.10.2010
Ketika aku sedang ambil makan, tiba-tiba Bewa mencicit lemah. Aku segera menghampiri rumahnya, dan dengan tatapan mata yang sangat sedih dia memandangku dari dalam rumahnya seakan-akan pandangan itu berkata, "tolonglah aku!". Aku berusaha menghibur Bewa, memetik-metikkan jariku dihadapannya dan menunggu reaksinya. Dia masih mencicit-cicit lemah.

20.10.2010
Waktu aku bangun tadi pagi aku langsung bertanya pada Mum yang udah duluan bangun.
Aku : Mum, Bewa kayak mana?"
Mum : Lagi tidur dia.
Aku : (merasa kurang yakin dan sudah ada firasat, langsung mendekati rumahnya) (dan betul, tubuh Bewa sudah tersungkur di dasar rumahnya) Ih, Mum. Bewa udah meninggal. Lihat lah! (kuangkat rumahnya dan menurunkannya ke bawah).
Mum : (sedih) Kayak mana dia nggak meninggal, orang udah beberapa hari ini dia nggak makan-makan.
Aku : Sedih kali aku...

20.10.2010
Mum mengubur tubuh kecil Bewa di halaman rumah kami. Tidak lupa dia menaburkan sedikit bunga di atasnya. Sebuah kayu kecil yang biasa jadi sendok makannya Bewa ditusuk di tanah yang tertanam tubuh Bewa. Mum juga menaburkan makanannya di atas tanah.

20.10.2010
Hanya satu bulan sepuluh hari Bewa bersama keluargaku.

20.10.2010
Semut-semut yang mengerubungi tubuhnya waktu itu mungkin sebuah pertanda.

20.10.2010
Cicitan lemahnya itu bukanlah pertanda bahwa dia akan sembuh. Tapi itu sebuah cicitan terakhir yang diperdengarkannya untuk kami. Sebuah salam perpisahan.

20.10.2010
Aku menulis ini untuk Bewa. Dengan rasa yang teramat sakit ditenggorokanku.

20.10.2010
Mungkin aku agak sedikit berlebihan. Tapi Bewa juga mahluk hidup yang kehadirannya pernah meramaikan isi rumahku.

20.10.2010
Bewa is my little cute baby bird.

20.10.2010
Goodbye, Bewa!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar